080322 Notulensi Deep Insight @taulebih.id × @insightme.id - Know Yourself better through SEX-EDUCATION
- Sex-Ed hanya mengajarkan seputar HAVING SEX, seperti memakai alat kontrasepsi, lalu ketika hamil bisa melakukan aborsi. Padahal, Sex-Ed tidak hanya berkutat tentang Having Sex aja nih, dalam Kurikulum nya kita diajarkan dari basic bagaimana cara membedakan antara wanita dan laki2, cara menghindari kekerasan seksual, dll.
- Cocok diajarkan hanya untuk yg di atas umur. Padahal, pembelajaran Kurikulum nya sesuai dengan usia masing2 (Age Appropriate).
- Banyak yg beranggapan datang dari Budaya Barat. Padahal, Kurikulum nya akan tetap disesuaikan dengan Value masing2 negara (Culture Appropriate).
"Ketika kita bisa mengerti personal space diri sendiri, maka kita juga bisa mengerti personal space orang lain"
π₯ Sex-Ed di Negara lain
Beberapa Negara yg sudah menerapkan Sexual Education secara komprehensif. Contohnya Malaysia yg sudah mengajarkan "Save/Unsave Touch" pada Siswa/i TK. Sedangkan di Kanada, sangat kooperatif dengan para Orang Tua. Orang Tua/Wali akan dimintai izin apakah berkenan putra/putri mereka diajarkan Kurikulum Sex-Ed, bila Ortu masih keberatan akan diberi opsi2 lanjutan. Lain dengan Inggris, adanya protes Imigran terkait Sex-Ed yg dianggap terlalu konservatif-sekuler, membuat Pemerintah turun tangan berjanji akan memperbaiki Kurikulum dan disesuaikan dengan masing2 Agama. Di Indonesia sendiri pada tahun 2017, sudah meluncurkan Modul bagi para Siswa/i SD yg diprakarsai oleh 3 Kementerian yakni, KEMENDIKBUD, KEMENKES dan KEMENAG. Tapi kembali lagi, belum ada regulasi jelas yg mengatur dari Pusat ke Dinas2 terkait di Daerah tentang Kurikulum ini.
π₯ POV Orang Tua
Doi juga menjelaskan nih, bagaimana tips2 bagi Orang Tua agar tidak awkward/canggung ketika ngobrol bersama Anak terkait Sex-Ed ini. Karena Ortu sebagai makhluk dewasa yg sudah memiliki kematangan emosi, maka anak akan memberi mirroring reaction. Jika Ortu menyampaikan dengan gelagat tenang-tanpa mengganggap itu hal yg tabu-menyebutkan anatomi tubuh tanpa inisial2, maka Anak akan memberi respond yg sama. Dan perlu juga bagi Ortu untuk judge sejauh mana nih Anak mereka tahu akan hal tsb. Karena, jika bukan kita sebagai Ortu yg memberi penjelasan, mereka sang Anak akan mencari tahu sendiri. Dan jelas, hal itu lebih berbahaya, terlebih dizaman sekarang Internet yg mendominasi.
Disini doi menambahkan, bahwa ketika Kurikulum Sex-Ed ini diterapkan dan diimplementasikan, ada 3 Kelompok sekaligus yg perlu belajar dan saling terhubung. Anak itu sendiri-sehingga sebagai Ortu kita bisa memahami serta menghargai mereka. Kedua, sang Guru, untuk un-learn hal2 toxic yg selama ini kurang tepat kita sampai kan kepada para Peserta Didik dan Ortu itu sendiri agar memiliki "healthy relationship" dengan sang Anak, Anak akan merasa nyaman bertanya/konsultasi/meminta saran terkait hal2 biologis yg terjadi pada tubuhnya-sehingga hal tsb sudahlah tidak dianggap tabu-seperti apa itu keputihan-apa itu masturbasi, dll.
π₯ ENDING
Di closing ceremoninya doi menyampaikan bagi siapapun diluar sana baik elemen Guru, Ortu, Kakak yg belum pernah belajar terkait Sex-Ed ini bahwa;
"Pengetahuan kita seperti Taman, apa yg tumbuh di Taman itu tdk bisa kita kontrol. Tapi kita bisa keep garden itu, dengan buang semua tanaman2 toxic dan kita tanam hal2 baru dengan knowledge kita"
Tanaman toxic yg doi maksud adalah lingkungan kita yg selama ini selalu victim blaming, body shaming, toxic harus kita UN-LEARN. Dan kita RE-LEARN hal2 baik yg belum kita ketahui, seperti consent, memberi personal space-personal decision-personal boundaries.
InsyaAlloh itu aja yg bisa ane capture nih dari deep talk insight via IG malam ini. Jangan lupa comment ya jika temen2 juga consent ke hal yg sama! Share juga ke yg lain biar tambah melek dan saling mengingatkan!♡
Yuk kita ciptakan save space untuk hidup yg lebih baik! See you di Notulensi yg lainnya ya~~~ untuk record Live nya bisa kalian check langsung di IG @insightme.id♡♡
Komentar